Bayangkan sebuah aplikasi belajar menulis yang di halaman pembukanya tidak menampilkan animasi generik, melainkan sebilah keris — simbol yang begitu lekat dengan budaya Brebes. Itulah wajah pertama dari SI KERIS, aplikasi kreatif menulis yang dikembangkan oleh tim peneliti Universitas Muhadi Setiabudi (UMUS) bersama IKIP PGRI Bojonegoro, sebagai jawaban atas satu masalah klasik dalam pembelajaran menulis kreatif: bagaimana caranya membuat mahasiswa tidak hanya bisa menulis, tetapi juga bisa berpikir kritis dan menghargai budayanya sendiri sekaligus.
Masalah yang Ingin Dijawab
Menulis kreatif sering dianggap sekadar keterampilan teknis — menyusun kalimat yang indah, memilih diksi yang menarik. Padahal, menulis kreatif sejatinya adalah ruang bagi mahasiswa untuk mengorganisasi gagasan, berpikir kritis terhadap informasi yang mereka terima, dan menciptakan karya yang orisinal dan bermakna. Sayangnya, pembelajaran menulis kreatif di banyak kampus masih berhenti pada aspek teknis semata, tanpa memberi ruang bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi konteks lokal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka.
Di sinilah kearifan lokal Brebes — mulai dari legenda Si Keris, tradisi, hingga nilai-nilai sosial seperti gotong royong dan kejujuran — dilihat sebagai sumber inspirasi yang selama ini belum banyak dimanfaatkan dalam pembelajaran menulis. Padahal, kearifan lokal berpotensi memperkaya isi tulisan mahasiswa sekaligus menjaga warisan budaya agar tidak tergerus zaman.
Bagaimana Aplikasi Ini Dikembangkan?
Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan (Research and Development/R&D), yang secara sederhana berarti: peneliti tidak hanya menganalisis masalah, tetapi benar-benar merancang, menguji, dan menyempurnakan sebuah produk nyata — dalam hal ini, sebuah aplikasi pembelajaran.
Tahapannya meliputi: menggali potensi dan masalah, mengumpulkan data kebutuhan, merancang prototipe aplikasi, memvalidasi desain oleh ahli, merevisi, menguji coba dalam skala terbatas, merevisi kembali, hingga menguji coba pemakaian dalam skala lebih luas.
Sebelum aplikasi dirancang, tim peneliti terlebih dahulu menjaring kebutuhan dari 86 mahasiswa dan 12 dosen program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di empat perguruan tinggi: Universitas Muhadi Setiabudi Brebes, Universitas Pancasakti Tegal, Universitas Pekalongan, dan Universitas Jenderal Soedirman. Hasilnya cukup meyakinkan: seluruh mahasiswa dan dosen yang disurvei sepakat bahwa aplikasi kreatif menulis bermuatan kearifan lokal Brebes memang masih sangat diperlukan, dan mereka menginginkan aplikasi tersebut berbasis mobile, dilengkapi fitur multimedia, contoh teks, kuis, hingga ruang diskusi antar mahasiswa.
Mengenal Aplikasi SI KERIS
Dari hasil analisis kebutuhan itulah lahir SI KERIS, sebuah aplikasi kreatif menulis yang dibangun menggunakan perangkat lunak Articulate Storyline, memadukan teks, gambar, grafik, suara, animasi, dan video dalam satu paket pembelajaran berbasis game.
Halaman pembuka aplikasi menyambut pengguna dengan simbol keris — identitas visual yang merepresentasikan budaya Brebes — dipadukan dengan tampilan modern yang tetap mudah dinavigasi. Di dalamnya tersedia menu Materi yang menjelaskan konsep dasar menulis kreatif, menu Kuis untuk mengukur pemahaman, serta menu Referensi yang berisi sumber-sumber terkait kearifan lokal Brebes. Aplikasi ini juga dirancang agar dapat diakses lintas perangkat dan mendukung pembelajaran jarak jauh.
Sebelum diuji cobakan kepada mahasiswa, aplikasi ini terlebih dahulu dinilai oleh tiga kelompok ahli: ahli menulis, ahli budaya, dan ahli teknologi informasi/desain grafis. Hasilnya, aplikasi ini memperoleh skor rata-rata 86,37 dari skala 100, yang termasuk dalam kategori sangat baik — sebuah indikasi bahwa aplikasi ini layak untuk diuji cobakan secara lebih luas.
Apakah Aplikasi Ini Benar-Benar Efektif?
Pertanyaan paling penting dari sebuah inovasi pembelajaran tentu saja: apakah aplikasi ini benar-benar berdampak pada kemampuan mahasiswa? Untuk menjawabnya, tim peneliti menguji efektivitas SI KERIS di empat perguruan tinggi yang sama, dengan membandingkan hasil sebelum (pretest) dan sesudah (posttest) mahasiswa menggunakan aplikasi tersebut.
Hasilnya cukup menggembirakan. Di seluruh kampus yang diuji, ditemukan perbedaan yang signifikan secara statistik antara nilai pretest dan posttest mahasiswa — artinya, kemampuan menulis kreatif dan berpikir tingkat tinggi mahasiswa benar-benar meningkat setelah menggunakan aplikasi ini. Peningkatan skor rata-rata di berbagai kampus berkisar antara 20% hingga lebih dari 24%.
Temuan ini konsisten dengan tanggapan para dosen: mayoritas dari mereka menilai aplikasi ini efektif mendukung pembelajaran menulis kreatif dan memudahkan proses belajar-mengajar, baik secara tatap muka maupun jarak jauh.

Mengapa Ini Penting?
Hasil penelitian ini menunjukkan sesuatu yang sederhana namun bermakna: mahasiswa tidak hanya bisa belajar menulis lebih baik, tetapi juga bisa belajar mencintai budayanya sendiri melalui proses yang sama. Dengan mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam materi ajar, mahasiswa diajak untuk tidak sekadar menghasilkan tulisan yang rapi, tetapi juga tulisan yang berakar pada identitas dan lingkungan sosial mereka.
Bagi dunia pendidikan tinggi, temuan ini membuka peluang bagi pengembangan media pembelajaran serupa di daerah lain, dengan memanfaatkan kearifan lokal masing-masing sebagai sumber inspirasi. Sebab, pembelajaran yang kontekstual dan dekat dengan keseharian mahasiswa terbukti lebih mudah dipahami, lebih relevan, dan pada akhirnya lebih efektif dalam membentuk keterampilan berpikir tingkat tinggi yang dibutuhkan di abad ke-21.
Ke depan, tim peneliti berencana menyempurnakan artikel ilmiah hasil penelitian ini untuk dipublikasikan di International Journal of Information and Education Technology (IJIET), sebuah jurnal internasional bereputasi yang terindeks Scopus, sekaligus melanjutkan pengembangan aplikasi ini hingga tahap diseminasi yang lebih luas.
Ditulis berdasarkan hasil riset “Pengembangan Aplikasi Kreatif Menulis yang Bermuatan Local Wisdom Brebes untuk Meningkatkan Berpikir Tingkat Tinggi Mahasiswa dalam Pembelajaran Menulis Kreatif” (Prasetyo Yuli Kurniawan, 2024), didanai oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kemendiktisaintek.