Di lereng Gunung Slamet, Kebun Teh Kaligua di Brebes selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata alam favorit di kawasan Jawa Tengah bagian selatan. Hamparan kebun teh yang hijau, udara sejuk pegunungan, serta suasana khas perkebunan menjadikannya tujuan wisata yang terus diminati. Namun, di balik popularitasnya, muncul pertanyaan penting yang mendasari penelitian tim dosen Universitas Muhadi Setiabudi (UMUS): bagaimana caranya agar wisata alam seperti ini tidak hanya ramai dikunjungi, tetapi juga benar-benar berkelanjutan — baik dari sisi lingkungan, ekonomi, maupun sosial?
Penelitian yang didanai skema Penelitian Fundamental Reguler dari DRTPM Kemdiktisaintek ini menggunakan pendekatan ecotourism atau ekowisata, yaitu konsep wisata yang tidak sekadar menjual keindahan alam, tetapi juga mendorong pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat sekitar sebagai bagian tak terpisahkan dari pengalaman wisata itu sendiri.
Dua Alat Analisis, Satu Tujuan
Untuk menjawab persoalan ini secara menyeluruh, peneliti menggunakan dua pendekatan analisis yang saling melengkapi:
- Analisis SWOT dan Matriks IE (Internal-Eksternal) — untuk memetakan kondisi internal (kekuatan dan kelemahan) serta kondisi eksternal (peluang dan ancaman) yang dihadapi Kebun Teh Kaligua sebagai destinasi wisata.
- Structural Equation Modeling (SEM) — sebuah metode statistik untuk menguji bagaimana beberapa faktor psikologis wisatawan saling memengaruhi satu sama lain, khususnya dalam membentuk niat mereka untuk berperilaku ramah lingkungan.
Penelitian ini melibatkan survei terhadap 350 wisatawan yang datang berkunjung ke Kebun Teh Kaligua, dengan mayoritas responden merupakan wisatawan yang sudah pernah berkunjung lebih dari sekali (61,1%) — menandakan tingkat loyalitas pengunjung yang cukup tinggi terhadap destinasi ini.
Memetakan Kekuatan dan Tantangan Kaligua
Dari hasil analisis SWOT, beberapa kekuatan utama Kebun Teh Kaligua antara lain keramahan penduduk lokal, kebersihan lingkungan, dan keindahan alam yang unik — ketiganya mendapatkan skor tertinggi dalam penilaian internal. Di sisi lain, kelemahan yang paling mendesak untuk diperbaiki adalah akses transportasi yang kurang memadai, promosi yang belum efektif, dan kurangnya fasilitas kesehatan darurat bagi pengunjung.
Sementara itu, dari sisi peluang eksternal, penelitian ini mencatat bahwa meningkatnya minat wisatawan domestik dan pengembangan infrastruktur daerah menjadi dua faktor peluang dengan skor tertinggi. Ancaman utama yang perlu diwaspadai adalah persaingan dengan destinasi wisata lain serta risiko perubahan iklim yang bisa memengaruhi kenyamanan berwisata.
Ketika seluruh faktor ini dipetakan ke dalam Matriks IE, Kebun Teh Kaligua berada pada posisi yang menggabungkan kekuatan internal rata-rata dengan peluang eksternal yang sangat menjanjikan. Posisi ini mengarahkan pada strategi kombinasi “Hold and Maintain” (menjaga dan mempertahankan apa yang sudah baik) sekaligus “Grow and Build” (tumbuh dan mengembangkan potensi baru) — artinya, Kaligua perlu mempertahankan kekuatan yang sudah ada sambil aktif menggarap peluang pertumbuhan yang tersedia.
Apa yang Membuat Wisatawan Peduli pada Lingkungan?
Bagian paling menarik dari penelitian ini adalah upaya mengungkap faktor psikologis apa saja yang mendorong wisatawan untuk berperilaku ramah lingkungan selama dan setelah kunjungan mereka. Empat faktor utama diuji dalam penelitian ini, yang secara sederhana bisa dijelaskan sebagai berikut:
- Tourist Perception (Persepsi Wisatawan) — bagaimana pandangan wisatawan terhadap keamanan, kebersihan, dan kualitas pelayanan di Kaligua.
- Tourist Engagement (Keterlibatan Wisatawan) — seberapa aktif wisatawan terlibat dalam kegiatan wisata, misalnya mencoba makanan lokal, berinteraksi dengan penduduk setempat, atau mengikuti aktivitas yang ditawarkan.
- Perceived Value (Nilai yang Dirasakan) — apakah wisatawan merasa pengalaman yang mereka dapatkan sepadan atau bahkan melebihi biaya yang telah dikeluarkan.
- Nature Relatedness (Keterkaitan dengan Alam) — seberapa dalam wisatawan merasa terhubung secara emosional dengan alam selama berada di lokasi wisata.
Keempat faktor ini kemudian diuji pengaruhnya terhadap Behavioral Intention, yaitu niat wisatawan untuk berperilaku pro-lingkungan — misalnya niat untuk kembali berkunjung, merekomendasikan tempat ini ke orang lain, atau ikut menjaga kelestarian lingkungan sekitar.
Temuan Kunci: Keterlibatan dan Nilai yang Dirasakan Jadi Penentu
Melalui analisis SEM, penelitian ini menemukan beberapa hasil penting:
- Keterlibatan wisatawan (Tourist Engagement) terbukti secara signifikan meningkatkan keterkaitan mereka dengan alam. Sederhananya, semakin aktif seorang wisatawan terlibat dalam kegiatan — bukan sekadar berfoto lalu pulang — semakin besar pula rasa keterhubungannya dengan alam sekitar.
- Nilai yang dirasakan (Perceived Value) menjadi faktor dengan pengaruh paling kuat terhadap keterkaitan dengan alam, dan juga berpengaruh langsung terhadap niat perilaku pro-lingkungan. Artinya, ketika wisatawan merasa pengalaman mereka benar-benar “worth it”, mereka jauh lebih terdorong untuk peduli dan berperilaku ramah lingkungan.
- Keterkaitan dengan alam (Nature Relatedness) pada akhirnya menjadi jembatan penting yang memperkuat niat wisatawan untuk berperilaku pro-lingkungan — baik itu niat untuk kembali berkunjung maupun untuk merekomendasikan Kaligua kepada orang lain.
- Menariknya, persepsi wisatawan (Tourist Perception) justru tidak berpengaruh signifikan terhadap niat perilaku, dan malah menunjukkan hubungan negatif dengan keterkaitan wisatawan terhadap alam. Ini artinya, sekadar memiliki kesan yang baik tentang suatu tempat (misalnya menganggapnya aman dan bersih) saja tidak cukup untuk membuat wisatawan benar-benar peduli pada lingkungan — dibutuhkan pengalaman yang lebih mendalam dan bermakna.
Secara statistik, model yang diuji dalam penelitian ini juga dinyatakan sangat baik dan layak berdasarkan berbagai indikator kesesuaian model (goodness of fit), yang berarti hubungan antar faktor yang ditemukan ini bisa dipercaya menggambarkan kondisi sesungguhnya di lapangan.
Artinya Apa Bagi Pengelolaan Kaligua?
Temuan ini memberikan arah yang cukup jelas bagi pengelola destinasi wisata seperti Kaligua: fokus pembenahan tidak cukup hanya pada mempercantik pemandangan atau menjaga kebersihan semata. Yang jauh lebih penting adalah menciptakan pengalaman yang membuat wisatawan benar-benar terlibat secara aktif dan merasakan nilai nyata dari kunjungan mereka. Beberapa rekomendasi strategi yang diusulkan dalam penelitian ini antara lain:
- Mempertahankan kualitas yang sudah baik, seperti kebersihan lingkungan dan keramahan penduduk lokal.
- Memperdalam penetrasi pasar domestik melalui kampanye pemasaran yang lebih menyasar kebutuhan wisatawan lokal.
- Mengembangkan produk wisata baru, misalnya paket wisata edukasi tentang keberlanjutan lingkungan atau fasilitas ramah anak.
- Membangun kemitraan dengan agen perjalanan maupun sektor akademis untuk memperkaya program wisata berbasis edukasi dan konservasi.
- Mengoptimalkan promosi digital melalui media sosial untuk menjangkau wisatawan yang lebih luas, terutama generasi muda.

Tantangan yang Masih Perlu Dibenahi
Penelitian ini juga menyoroti sejumlah tantangan nyata di lapangan yang perlu mendapat perhatian, terutama terkait infrastruktur — akses jalan menuju lokasi yang kurang optimal, terutama saat musim hujan, serta keterbatasan fasilitas dasar seperti penginapan dan sanitasi. Selain itu, keterlibatan komunitas lokal dalam pengelolaan wisata dinilai masih perlu ditingkatkan, misalnya melalui pelatihan pengelolaan homestay, pemanduan wisata alam, hingga teknik pertanian ramah lingkungan — sehingga masyarakat sekitar tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku aktif dalam industri wisata di kawasan mereka sendiri.
Langkah Selanjutnya
Hasil penelitian ini saat ini tengah dalam tahap finalisasi naskah untuk diajukan ke jurnal internasional bereputasi, Journal of Tourism & Management Studies. Sebagai bagian dari peta jalan penelitian jangka panjang, tim peneliti juga berencana menyusun buku panduan praktis bagi pengelola dan komunitas lokal, serta melanjutkan penelitian pada tahap implementasi dan evaluasi strategi ecotourism di tahun-tahun berikutnya — termasuk kemungkinan mereplikasi model penelitian ini ke destinasi agrowisata lain di wilayah Brebes.
Mengapa Penelitian Ini Penting?
Penelitian ini menegaskan satu hal penting: keberlanjutan pariwisata bukan hanya soal menjaga alam tetap indah, tetapi juga soal bagaimana menciptakan pengalaman yang membuat wisatawan merasa terhubung dan peduli. Dengan memahami secara ilmiah apa yang sesungguhnya mendorong wisatawan untuk berperilaku ramah lingkungan, pengelola destinasi seperti Kebun Teh Kaligua dapat merancang strategi yang lebih tepat sasaran — bukan sekadar menarik lebih banyak pengunjung, tetapi juga memastikan bahwa setiap kunjungan tersebut memberi manfaat jangka panjang, baik bagi alam maupun masyarakat sekitarnya.
Artikel ini disusun berdasarkan Laporan Kemajuan Penelitian Fundamental Reguler “Strategi Pengembangan Agrowisata Berkelanjutan secara Holistik di Perkebunan Teh Kaligua Brebes dengan Pendekatan Ecotourism” oleh Andi Yulianto, Roby Setiadi, dan Melly Fera, didanai oleh DRTPM Kemdiktisaintek Tahun 2024.