Brebes selama ini dikenal sebagai salah satu sentra peternakan puyuh di Jawa Tengah. Namun di balik potensi itu, banyak peternak justru gulung tikar. Sebuah tim peneliti dari Universitas Muhadi Setiabudi (UMUS) mencoba menjawab pertanyaan sederhana namun penting: apa sebenarnya yang membuat usaha ternak puyuh di Brebes sulit bertahan, dan strategi pemasaran seperti apa yang paling tepat untuk membangkitkannya kembali?
Penelitian yang didanai oleh DRTPM Kemdiktisaintek ini melibatkan 59 peternak puyuh di Brebes — baik yang masih aktif berproduksi maupun yang sudah berhenti — dan hasilnya memberikan gambaran yang cukup jelas tentang wajah peternakan puyuh di daerah ini.
Potret Peternak Puyuh Brebes
Dari 59 peternak yang diwawancarai, hanya 30 orang yang masih aktif menjalankan usahanya hingga tahun 2024. Sisanya, 29 peternak, sudah berhenti — meski sebagian besar mengaku ingin kembali beternak jika modal sudah mencukupi.
Beberapa temuan menarik dari sisi demografi:
- Pendidikan: Mayoritas peternak aktif adalah lulusan SMP dan SMA. Menariknya, tidak ada satu pun lulusan sarjana yang masih aktif beternak puyuh pada 2024 — bagi mereka, beternak puyuh lebih sering dijadikan usaha sampingan, bukan mata pencaharian utama.
- Usia: Peternak paling banyak berada di rentang usia 31–50 tahun, kelompok usia yang biasanya sudah cukup stabil secara pengalaman kerja.
- Skala usaha: Sebagian besar peternak (34%) memelihara 1.000–2.000 ekor puyuh, disusul peternak dengan skala lebih kecil (500–1.000 ekor). Skala usaha yang besar (di atas 5.000 ekor) sangat jarang ditemui.
- Gender: 95% peternak adalah laki-laki, mencerminkan pandangan bahwa pekerjaan ini masih dianggap sebagai pekerjaan fisik yang “milik laki-laki”.
- Pengalaman: Hampir 40% peternak baru memiliki pengalaman kurang dari satu tahun — tanda bahwa banyak pemain baru masuk ke bisnis ini, namun sekaligus rawan gagal karena minim pengalaman.
Kenapa Banyak yang Gulung Tikar?
Untuk menjawab pertanyaan ini, peneliti meminta peternak menilai sejumlah pernyataan tentang penyebab kegagalan usaha. Hasilnya cukup mengejutkan karena hampir seluruh responden sepakat pada beberapa titik masalah utama:
- Harga pakan yang terlalu mahal — seluruh responden (100%) sepakat ini menjadi faktor utama kebangkrutan. Wajar saja, sebab pakan adalah komponen biaya operasional terbesar dalam peternakan puyuh.
- Harga telur puyuh yang rendah dibandingkan biaya produksi (disepakati 100% responden).
- Kematian puyuh akibat penyakit yang menimbulkan kerugian besar (100% responden setuju).
- Kesulitan pemasaran — peternak kesulitan menjual telurnya ke pasar yang lebih luas.
- Keterbatasan modal, baik modal awal maupun modal kerja sehari-hari.
- Kurangnya pengetahuan tentang manajemen peternakan yang baik, mulai dari sanitasi kandang hingga pencatatan keuangan yang masih tercampur dengan uang pribadi.
- Persaingan dengan peternak besar, yang membuat peternak skala kecil kalah bersaing dari sisi harga maupun volume produksi.
Menariknya, seluruh responden juga sepakat bahwa produk turunan telur puyuh (seperti telur asin puyuh atau abon puyuh) memiliki potensi menambah nilai jual — sebuah peluang yang selama ini belum banyak dimanfaatkan.
Menyusun Strategi dengan Analisis SWOT dan Matriks IE
Setelah mengetahui akar masalahnya, peneliti melangkah ke tahap berikutnya: merancang strategi pemasaran yang tepat sasaran. Di sinilah tiga alat analisis manajemen strategis digunakan — Analisis SWOT, Matriks IE (Internal-Eksternal), dan QSPM. Ketiganya mungkin terdengar teknis, tetapi sebenarnya cara kerjanya cukup sederhana untuk dipahami:
- Analisis SWOT adalah cara memetakan kekuatan (Strength), kelemahan (Weakness), peluang (Opportunity), dan ancaman (Threat) dari sebuah usaha. Ibaratnya, seperti membuat “peta kondisi” usaha sebelum menentukan langkah selanjutnya.
- Matriks IE (Internal-Eksternal) adalah alat untuk memposisikan usaha dalam sebuah “peta strategi” berdasarkan seberapa kuat kondisi internal (kekuatan dan kelemahan) dan seberapa besar peluang eksternal yang dimiliki. Posisi ini menentukan jenis strategi yang paling cocok — apakah harus fokus bertumbuh, bertahan, atau melakukan perbaikan internal terlebih dahulu.
- QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix) adalah tahap akhir untuk menentukan strategi mana yang paling prioritas untuk dijalankan lebih dulu, berdasarkan skor kuantitatif dari berbagai alternatif strategi yang ada.
Dari hasil pembobotan faktor internal, peternak puyuh Brebes memiliki kekuatan seperti hubungan baik dengan konsumen, adanya komunitas peternak, dan produk turunan bernilai tambah. Namun di sisi lain, kelemahan yang cukup dominan adalah pengelolaan keuangan yang masih bercampur dengan keuangan pribadi, minimnya promosi, dan ketergantungan tinggi pada pasar lokal.
Dari sisi eksternal, peluang terbesar datang dari reputasi kualitas telur puyuh Brebes yang dianggap lebih baik dibanding daerah lain, serta pasar yang belum sepenuhnya tergarap. Sementara ancaman utamanya adalah persaingan dari telur puyuh daerah lain dan keterbatasan akses ke pasar yang lebih luas.
Ketika kedua skor ini dipetakan ke dalam Matriks IE, posisi usaha peternakan puyuh Brebes berada pada kuadran yang tergolong kuat secara internal dengan peluang eksternal yang cukup baik — artinya, strategi yang paling sesuai adalah strategi tumbuh dan membangun (growth and build), bukan sekadar strategi bertahan.

Bukan Sekadar Diagnosis, tapi Juga Solusi
Penelitian ini tidak berhenti pada mengidentifikasi masalah. Peternak juga dimintai pendapat mengenai solusi apa yang paling mereka butuhkan, dan hasilnya cukup jelas menunjukkan arah kebijakan yang perlu diambil:
- Subsidi harga pakan dari pemerintah (didukung 80% responden).
- Bantuan pemasaran melalui program seperti pasar murah dan promosi (100% responden setuju).
- Pelatihan dan pendampingan dari dinas peternakan tentang teknik beternak dan manajemen usaha yang baik (100% responden setuju).
- Penguatan kelembagaan peternak, mengingat hingga saat ini belum ada kelompok atau organisasi resmi peternak puyuh di Brebes yang bisa menjadi wadah berbagi akses modal, teknologi, dan pasar.
- Edukasi konsumen tentang manfaat telur puyuh, agar permintaan pasar semakin tumbuh.
- Diversifikasi produk, misalnya olahan telur puyuh, produk kecantikan, hingga suplemen kesehatan berbahan dasar telur puyuh.
- Perluasan pasar, termasuk membuka akses ke pasar ekspor dan platform daring (online).
Harapan ke Depan
Penelitian ini telah menghasilkan artikel ilmiah berjudul “Contributing Factors to Quail Farming Failures in Brebes and Potential Mitigation Strategies” yang telah diterima untuk dipublikasikan di Bantara Journal of Animal Science (BJAS). Tim peneliti juga berencana mempresentasikan hasil ini kepada Dinas Peternakan Kabupaten Brebes, agar temuan di lapangan bisa menjadi masukan langsung bagi kebijakan pengembangan peternakan puyuh di daerah.
Ke depan, penelitian ini direncanakan berlanjut hingga tahun 2027 sebagai bagian dari peta jalan riset lima tahun, mulai dari pemecahan masalah pemasaran, implementasi strategi, hingga tahap ekspansi pasar dan penguatan brand awareness telur puyuh Brebes.
Kisah para peternak puyuh Brebes ini menunjukkan satu hal penting: di balik usaha kecil yang tampak sederhana, terdapat persoalan struktural yang cukup kompleks — namun dengan data yang tepat dan strategi yang terukur, jalan keluar itu bukan hal yang mustahil untuk ditemukan.
Artikel ini disusun berdasarkan Laporan Penelitian Dosen Pemula “Strategi Pengembangan Pemasaran Telur Puyuh di Brebes: Analisis SWOT dan Prioritasi Strategi Berdasarkan Matriks IE, Matriks Grand Strategy, dan QSPM” oleh Roni, Muhamad Hasdar, dan Amelia Sholeha, didanai oleh DRTPM Kemdiktisaintek Tahun 2024.