Cakrawala Teknologi Pangan

Kulit Bawang Merah Brebes untuk Daging Itik Rendah Kolesterol

Teknologi Pangan
Peneliti:Yan El Rizal Unzilatirrizqi D., M.Sc.
Skema:PDP
Tahun:2024

Brebes selama ini identik dengan bawang merah. Sebagai penyumbang 18,5% produksi bawang merah nasional, wajar jika Brebes dijuluki “Kota Bawang”. Namun, di balik gemerlap produksi itu, ada persoalan yang sering luput dari perhatian: ke mana perginya kulit bawang merah yang dikupas dalam jumlah besar setiap harinya?

Selama ini kulit bawang merah lebih sering berakhir sebagai limbah yang dibuang begitu saja, padahal jumlahnya tidak sedikit. Limbah yang menumpuk ini berpotensi menimbulkan masalah lingkungan. Namun, sebuah tim peneliti dari Universitas Muhadi Setiabudi (UMUS) melihat persoalan ini dari sudut pandang yang berbeda: bagaimana jika limbah kulit bawang merah ini justru diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat — bahkan menyehatkan?

Ide di Balik Penelitian

Penelitian yang didanai oleh DRTPM Kemdiktisaintek ini berangkat dari fakta bahwa kulit bawang merah bukan sekadar sampah dapur biasa. Di dalamnya terkandung senyawa aktif bernama flavonoid, khususnya jenis yang disebut kuersetin. Secara sederhana, flavonoid adalah senyawa alami pada tumbuhan yang dikenal memiliki sifat antioksidan — yaitu kemampuan untuk melawan kerusakan sel akibat radikal bebas, sekaligus berpotensi membantu menurunkan kadar kolesterol.

Brebes juga dikenal sebagai daerah dengan potensi pangan lokal berupa olahan itik, baik daging maupun telurnya. Dari sinilah muncul gagasan untuk menggabungkan dua potensi lokal Brebes sekaligus: memanfaatkan limbah kulit bawang merah sebagai bahan campuran pakan itik, dengan harapan dapat menurunkan kadar kolesterol pada daging itik yang dihasilkan. Jika berhasil, ini akan menjadi solusi dua arah — mengurangi masalah limbah pertanian sekaligus meningkatkan nilai gizi produk pangan lokal.

Bagaimana Prosesnya?

Penelitian ini dilakukan secara bertahap dan cukup rinci di laboratorium. Berikut gambaran sederhana tahapan yang telah dilalui tim peneliti:

1. Mengumpulkan dan mengolah limbah kulit bawang merah

Kulit bawang merah dikumpulkan langsung dari sisa produksi salah satu perusahaan pengolah bawang merah di Brebes. Setelah dibersihkan dari kotoran, kulit bawang dicuci dengan air mengalir untuk menghilangkan sisa residu, lalu dijemur di bawah terik matahari selama beberapa hari hingga benar-benar kering. Kulit yang sudah kering kemudian dihaluskan menjadi serbuk halus (dalam istilah farmasi disebut simplisia) agar mudah diolah pada tahap berikutnya.

Hasil pengujian menunjukkan kadar air serbuk kulit bawang merah ini sebesar 9,9% — angka ini penting karena sesuai standar, kadar air simplisia tidak boleh melebihi 10% agar tidak mudah ditumbuhi jamur atau bakteri yang bisa merusak kandungan senyawa aktif di dalamnya.

2. Mengekstrak senyawa aktif dengan dua metode berbeda

Untuk mengambil kandungan flavonoid dari serbuk kulit bawang merah, peneliti membandingkan dua metode ekstraksi:

  • Maserasi, yaitu metode tradisional dengan cara merendam bahan dalam pelarut (etanol) selama beberapa hari.
  • Microwave Assisted Extraction (MAE), yaitu metode modern yang memanfaatkan gelombang mikro (seperti pada microwave) untuk mempercepat proses penarikan senyawa aktif, hanya dalam hitungan menit.

Hasilnya cukup menarik: meskipun metode maserasi menghasilkan jumlah ekstrak (rendemen) yang sedikit lebih banyak, kandungan flavonoid (kuersetin) yang didapat dari metode MAE jauh lebih tinggi, yaitu 88,56%, dibandingkan metode maserasi yang hanya 56,46%. Selain itu, ekstrak hasil MAE juga terbukti memiliki aktivitas antioksidan yang sangat kuat (nilai IC50 sebesar 45,5 ppm), jauh lebih baik dibandingkan hasil maserasi (85,7 ppm). Semakin kecil nilai IC50, semakin kuat daya antioksidan suatu bahan.

Sederhananya, metode “microwave” ini terbukti lebih unggul karena mampu menembus dinding sel bahan secara merata, sehingga senyawa aktif yang bermanfaat bisa terambil lebih optimal — dan prosesnya pun jauh lebih singkat.

3. Menyiapkan bahan untuk pakan fungsional

Ekstrak kulit bawang merah dengan hasil terbaik dari metode MAE inilah yang selanjutnya direncanakan digunakan sebagai bahan campuran pakan fungsional untuk itik. Istilah “pakan fungsional” di sini merujuk pada pakan yang tidak hanya berfungsi sebagai sumber energi, tetapi juga membawa manfaat kesehatan tambahan bagi ternak yang mengonsumsinya — dalam hal ini, menurunkan kadar kolesterol daging itik.

Capaian Sejauh Ini

Hingga laporan kemajuan ini disusun, penelitian telah mencapai tahap persiapan sebelum uji coba pemberian pakan (feeding trial) kepada itik. Seluruh proses karakterisasi limbah kulit bawang merah — mulai dari pengujian kadar air, ekstraksi, hingga analisis kandungan flavonoid dan aktivitas antioksidan — telah selesai dilakukan dan menunjukkan hasil yang menjanjikan.

Sebagai capaian ilmiah, tim peneliti juga telah berhasil menyusun manuskrip dan mengirimkannya (submit) ke jurnal internasional bereputasi, The Malaysian Journal of Chemistry (MJChem), dengan judul yang membahas secara khusus proses ekstraksi kuersetin dari kulit bawang merah Brebes menggunakan metode tradisional dan metode ramah lingkungan (green extraction).

Tantangan di Lapangan

Seperti penelitian pada umumnya, perjalanan ini tidak lepas dari kendala. Salah satu hambatan utama yang dihadapi adalah antrean pengujian sampel di laboratorium yang memakan waktu cukup lama, sehingga turut memengaruhi jadwal tahapan penelitian selanjutnya. Selain itu, rencana awal publikasi di jurnal internasional bidang kesehatan masyarakat harus dialihkan ke jurnal kimia yang lebih sesuai dengan cakupan (scope) data penelitian, meski dengan reputasi yang setara.

Langkah Selanjutnya

Tahap penelitian berikutnya yang akan dilakukan adalah uji coba pemberian pakan (feeding trial) kepada itik menggunakan campuran pakan standar dan ekstrak kulit bawang merah, dengan beberapa variasi komposisi. Setelah itu, daging dan darah itik akan diuji untuk mengukur kadar kolesterolnya, guna membuktikan secara langsung apakah pakan fungsional ini benar-benar mampu menurunkan kadar kolesterol daging itik seperti yang diharapkan.

Penelitian ini merupakan bagian dari peta jalan riset jangka panjang hingga tahun 2027, dengan target akhir berupa formulasi pakan itik ideal berbahan limbah kulit bawang merah, lengkap dengan luaran tambahan berupa Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan publikasi pada jurnal internasional bereputasi tinggi.

Kenapa Penelitian Ini Penting?

Penelitian ini menunjukkan bahwa persoalan lingkungan dan persoalan kesehatan pangan sebenarnya bisa diselesaikan secara bersamaan dengan pendekatan yang tepat. Limbah kulit bawang merah yang selama ini dianggap tidak berguna, ternyata menyimpan potensi besar sebagai bahan pakan fungsional yang bisa meningkatkan nilai produk pangan lokal — sejalan dengan semangat ekonomi hijau (green economy) dan pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan, dua isu yang kini menjadi perhatian penting baik di tingkat daerah maupun nasional.


Artikel ini disusun berdasarkan Laporan Penelitian Dosen Pemula “Pemanfaatan Limbah Kulit Bawang Merah Brebes Menjadi Pakan Fungsional Penurun Kadar Kolesterol Daging Itik Sebagai Wujud Pangan Lokal Sehat” oleh Yan El Rizal Unzilatirrizqi D dan Muhamad Hasdar, didanai oleh DRTPM Kemdiktisaintek Tahun 2024.

← Kembali ke Cakrawala