Stunting, atau kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis, masih menjadi salah satu masalah kesehatan yang serius di Indonesia, termasuk di Kabupaten Brebes. Untuk menekan angka stunting ini, Pemerintah Kabupaten Brebes menjalankan program Dapur Sehat (DASHAT), yaitu program pemberian makanan bergizi bagi balita yang berisiko atau sudah mengalami stunting. Sayangnya, di Desa Kupu, Kecamatan Wanasari, program ini belum berjalan maksimal karena para kader posyandu masih kesulitan merancang dan mengolah menu makanan yang bervariasi dan sesuai kebutuhan gizi balita. Akibatnya, menu yang disajikan cenderung seadanya, bahkan sering menggunakan makanan instan yang mudah didapat.
Melihat kondisi tersebut, tim dosen dari Program Studi Gizi Universitas Muhadi Setiabudi (Umus) turun tangan membantu. Tim yang diketuai oleh Anggray Duvita Wahyani, S.Gz., M.Gizi, bersama dua anggota, Yunika Purwanti, S.TP., M.P. dan Diah Ratnasari, S.Pd., M.Gizi, serta dua mahasiswa pendamping, menggagas program pengabdian masyarakat bertajuk “Pendampingan Kader Posyandu dalam Penyusunan Menu Bergizi Seimbang Program Dapur Sehat sebagai Aksi Konvergensi Stunting di Desa Kupu.”
Kenapa Kader Posyandu Jadi Sasaran Utama?
Kader posyandu punya peran yang sangat penting dalam kesehatan masyarakat desa. Merekalah yang paling sering bertemu langsung dengan ibu-ibu dan anak balita, memberikan edukasi, layanan kesehatan dasar, sekaligus menjalankan program-program gizi seperti Pemberian Makanan Tambahan (PMT). Karena itu, jika pengetahuan gizi kader ditingkatkan, dampaknya akan langsung terasa oleh masyarakat yang mereka layani setiap hari.
“Kami ingin membantu kader posyandu dalam merencanakan menu PMT yang tidak hanya lezat, tetapi juga memenuhi kebutuhan gizi balita agar tumbuh secara optimal,” ujar Anggray Duvita Wahyani selaku ketua tim pengabdian.
Apa Saja yang Dilakukan Tim Pengabdian?
Kegiatan ini berlangsung selama satu bulan penuh, setiap hari Jumat, mulai 6 September hingga 4 Oktober 2024, bertempat di Balai Desa Kupu. Program dijalankan melalui lima tahapan yang saling berkesinambungan:
1. Sosialisasi Program Kegiatan diawali dengan pertemuan bersama perangkat desa dan kader posyandu untuk menjelaskan tujuan dan pentingnya program ini. Hasilnya, semua pihak menunjukkan antusiasme tinggi dan bersedia mendukung penuh, termasuk menyediakan tempat serta perlengkapan pelatihan.
2. Pelatihan Teori dan Praktik Sebelum pelatihan dimulai, para kader lebih dulu mengisi kuesioner pre-test untuk mengukur sejauh mana pemahaman mereka tentang gizi balita, cara menghitung kebutuhan kalori, hingga syarat penyusunan menu PMT yang baik. Setelah itu, kader mendapatkan materi seputar kelompok makanan bergizi seperti karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral, serta cara memanfaatkan bahan pangan lokal yang murah dan mudah didapat.
Yang menarik, pelatihan ini tidak hanya teori di atas kertas. Para kader juga langsung praktik memasak—mulai dari mengukus, merebus, hingga memanggang—supaya bisa menciptakan variasi menu yang membuat balita tidak bosan makan.
3. Penerapan Teknologi Sederhana Kader diajarkan menggunakan alat bantu sederhana seperti alat pengukus dan timbangan digital agar porsi makanan yang diberikan ke balita benar-benar sesuai kebutuhan gizinya, bukan sekadar kira-kira. Dengan bahan pangan lokal seperti sayuran hijau, telur, dan kacang-kacangan, menu yang dihasilkan pun menjadi lebih bervariasi sekaligus lebih hemat biaya.
4. Pendampingan dan Monitoring Setelah pelatihan, tim dosen tidak langsung pergi begitu saja. Mereka rutin mengunjungi posyandu untuk memantau perkembangan kader, membantu memecahkan kendala di lapangan—misalnya soal takaran porsi yang tepat—sekaligus memberi semangat agar kader tetap konsisten menjalankan program.
5. Evaluasi dan Rencana Keberlanjutan Di akhir program, dilakukan post-test untuk melihat seberapa besar peningkatan pengetahuan kader dibandingkan sebelum pelatihan, sekaligus berdiskusi dengan pemerintah desa mengenai kelanjutan program ke depannya.
Bantuan Nyata: 30 Set Alat Pengolahan Makanan
Selain ilmu, tim pengabdian juga memberikan bantuan hibah berupa 30 set alat pengolahan makanan kepada kader posyandu Desa Kupu. Bantuan ini diharapkan bisa terus dipakai untuk mendukung keberlangsungan program PMT bagi balita, bahkan setelah kegiatan pendampingan selesai.
Hasilnya, Bagaimana?
Program ini membuahkan hasil yang cukup menggembirakan. Berdasarkan perbandingan hasil pre-test dan post-test, terjadi lonjakan pemahaman kader yang cukup signifikan:
- Sebelum pelatihan, kader dengan pengetahuan kategori “cukup” hanya 20%, sementara 80% masih berada di kategori “kurang.”
- Setelah empat minggu pelatihan, pengetahuan kader dengan kategori “cukup” melonjak menjadi 84%, dan kategori “kurang” turun jauh menjadi hanya 16%.
Selain peningkatan pengetahuan, kepuasan peserta terhadap pelatihan ini juga sangat tinggi—90% kader menyatakan sangat puas dengan materi dan cara penyampaian pelatihan.
Salah satu kader posyandu Desa Kupu, Dewi, mengaku sangat terbantu dengan kegiatan ini. “Ini sangat membantu kami dalam memperkaya pengetahuan tentang gizi dan membuat variasi menu agar anak-anak tidak bosan,” ungkapnya. Ia berharap ilmu dan alat yang diperoleh bisa terus diterapkan secara konsisten dalam kegiatan posyandu setiap bulannya.
Kepala Desa Kupu, Ramli, juga menyampaikan apresiasinya atas program ini. “Kami berharap anak-anak di Desa Kupu bisa tumbuh sehat dan terhindar dari masalah gizi seperti stunting,” katanya.

Manfaat Jangka Panjang bagi Desa Kupu
Program ini tidak hanya berhenti pada peningkatan pengetahuan semata. Beberapa dampak positif lain yang dirasakan antara lain:
- Kader jadi lebih mandiri, tidak lagi terlalu bergantung pada arahan tenaga kesehatan dalam menyusun menu PMT.
- Partisipasi keluarga meningkat, karena orang tua balita semakin tertarik mendukung program dengan menyediakan bahan-bahan yang dibutuhkan.
- Dukungan pemerintah desa untuk keberlanjutan program, termasuk rencana pengadaan alat tambahan dan pelatihan berkala yang nantinya akan difasilitasi oleh kader senior.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini merupakan bagian dari program yang didanai oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia tahun anggaran 2024. Dengan hasil positif yang dicapai, program serupa berpotensi untuk diterapkan di desa-desa lain sebagai upaya bersama menekan angka stunting di Indonesia.
Sumber: Laporan Akhir Pengabdian Kepada Masyarakat, Program Studi Gizi, Universitas Muhadi Setiabudi, 2024, yang diketuai oleh Anggray Duvita Wahyani, S.Gz., M.Gizi, bersama dua anggota, Yunika Purwanti, S.TP., M.P. dan Diah Ratnasari, S.Pd., M.Gizi. Program Pengabdian yang didanai oleh DRTPM Kemdiksaintek 2024.