Siapa yang tak kenal Sapi Jabres? Sapi Jawa Brebes, atau yang akrab disapa Jabres, adalah salah satu kekayaan sumber daya genetik ternak lokal Indonesia yang hanya bisa ditemui di padang penggembalaan Kabupaten Brebes. Tahan panas, tahan penyakit, dan menjadi tumpuan hidup ratusan peternak, Sapi Jabres sejatinya adalah aset yang layak dibanggakan. Namun di balik potensinya yang besar, populasi Sapi Jabres justru terus menyusut dari tahun ke tahun.
Menjawab persoalan ini, tim peneliti Universitas Muhadi Setiabudi (UMUS) yang diketuai oleh Suci Nur Utami, S.Pt., M.Si., bersama Rifatul Masrikhiyah, Yan El Rizal Unzilatirrizqi D., dan Didik Tri Setiyoko, menggagas sebuah penelitian terapan berjudul “Inovasi Ekonomi Sirkular untuk Penguatan Motivasi dan Kapasitas Peternak Sapi Jawa Brebes (Jabres)”. Penelitian ini didanai melalui skema Penelitian Terapan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dan turut menggandeng mitra industri, PT Weskini Lestari Indonesia serta CV Pendawa Kencana Multifarm.
Akar Masalah: Motivasi yang Meredup dan Limbah yang Menumpuk
Dari hasil survei awal, tim peneliti menemukan bahwa penurunan populasi Sapi Jabres tidak lepas dari tiga persoalan utama: rendahnya motivasi peternak, keterbatasan pakan konsentrat berkualitas, serta tingginya volume limbah kotoran ternak yang tidak terkelola. Limbah yang dibiarkan menumpuk bukan hanya mencemari lingkungan, tetapi juga berpotensi melepaskan gas metana yang berkontribusi terhadap perubahan iklim.
Di sinilah gagasan ekonomi sirkular hadir sebagai solusi. Alih-alih dibuang begitu saja, limbah peternakan justru diolah kembali menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi—menutup siklus dari limbah menjadi produk, dan dari produk kembali menopang usaha peternakan itu sendiri.
Mendengar Suara Peternak Lewat SOAR Analysis
Sebelum turun dengan solusi teknis, tim peneliti terlebih dahulu menggali aspirasi para peternak menggunakan pendekatan SOAR Analysis (Strength, Opportunity, Aspiration, Result)—sebuah kerangka yang berfokus membangun dari kekuatan yang sudah dimiliki, bukan sekadar menambal kelemahan.
Dari kekuatan seperti populasi ternak yang besar dan harga pasar yang stabil, hingga peluang berupa melimpahnya kotoran ternak dan lahan penggembalaan, muncullah aspirasi bersama: peternak ingin usahanya lebih berkelanjutan, dan berharap ada program peningkatan keterampilan serta kerja sama dengan pemerintah daerah. Hasil dari proses ini menjadi peta jalan bagi program yang benar-benar dibutuhkan peternak, bukan sekadar solusi yang dipaksakan dari luar.
Tiga Produk dari Satu Tumpukan Limbah
Berdasarkan kebutuhan tersebut, tim mengembangkan tiga produk turunan dari limbah peternakan dan pertanian di sekitar Brebes:
1. Pakan ternak fermentasi. Memanfaatkan limbah daun bawang merah—komoditas andalan Brebes—yang dipadukan dengan bekatul, bungkil kopra, Tithonia diversifolia (bunga pahit yang kaya nutrisi), mineral, garam, probiotik, dan molase. Formulasi ini dirancang memenuhi kebutuhan protein 12% untuk ternak sapi, sekaligus menekan biaya pakan peternak.
2. Briket dari kotoran ternak. Kotoran sapi dipadukan dengan limbah daun bawang dan molase sebagai perekat alami, lalu melalui tahapan pengeringan, pembakaran, penggilingan, hingga pencetakan menjadi briket siap pakai—sebuah bentuk energi alternatif dari bahan yang sebelumnya dianggap tak berguna.
3. Biochar. Campuran kotoran sapi, sekam padi, dan limbah daun bawang diarangkan pada suhu 300–400°C, kemudian diaktivasi secara kimiawi hingga menghasilkan biochar yang dapat langsung diaplikasikan ke tanah atau dikombinasikan dengan pupuk kompos untuk memperbaiki kesuburan lahan.
Ketiga produk ini dirancang menjadi bagian dari sistem manajemen limbah terpadu, di mana siklus peternakan (livestock), limbah (limbah), produk turunan (by product), dan pemanfaatan kembali di lahan pertanian (farming) saling terhubung membentuk lingkaran yang berkelanjutan.

Tantangan di Lapangan
Meski konsepnya menjanjikan, penerapan di lapangan tidak selalu mulus. Tim peneliti mencatat sejumlah kendala nyata: sulitnya mengubah kebiasaan peternak yang sudah lama menjalankan praktik konvensional, keterbatasan waktu peternak untuk berpartisipasi dalam program, hingga kondisi ekonomi yang membuat motivasi untuk berinovasi menjadi rendah. Temuan jujur ini justru penting, karena menunjukkan bahwa keberhasilan inovasi teknologi peternakan tidak bisa dilepaskan dari pendekatan sosial dan pendampingan yang berkelanjutan.
Menuju Purwarupa Berpaten
Penelitian yang saat ini telah mencapai Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) level 3 menuju level 4 ini menargetkan luaran berupa purwarupa laik industri dalam bentuk paten terdaftar: paten pakan ternak berbasis limbah, paten briket, paten biochar, serta sistem pengelolaan limbah terpadu. Ke depan, tim akan melanjutkan tahapan validasi dan uji coba program, evaluasi efektivitas secara berkala, hingga penyusunan rekomendasi kebijakan menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP) bersama para pemangku kepentingan.
Melalui inovasi ini, LPPM UMUS berharap dapat mendorong agribisnis Sapi Jabres di Brebes bukan hanya bertahan, tetapi juga naik kelas—menjadi contoh nyata bagaimana kearifan lokal, semangat keberlanjutan, dan sentuhan riset perguruan tinggi dapat berjalan beriringan untuk mengangkat kesejahteraan peternak.
Sumber: Laporan Penelitian Terapan “Inovasi Ekonomi Sirkular untuk Penguatan Motivasi dan Kapasitas Peternak Sapi Jawa Brebes (Jabres)”, Suci Nur Utami dkk., Universitas Muhadi Setiabudi, 2024, yang didanai oleh DRTPM Kemdiktisaintek 2024.