Cakrawala Manajemen

Penerapan Teknologi Tunnel dan Geomembrane dalam Optimalisasi Produksi Garam Rakyat di Desa Grinting Brebes

Manajemen
Skema:Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat
Tahun:2024

Desa Grinting yang terletak di pesisir Pantai Utara Jawa, Kabupaten Brebes, sebenarnya punya potensi besar sebagai penghasil garam. Lahan tambaknya luas, dan pada tahun 2019 produksi garam di desa ini bahkan pernah mencapai 12.150 ton. Namun, produksi tersebut sempat anjlok drastis menjadi hanya 225 ton pada akhir tahun 2020. Ditambah lagi, cara pembuatan garam yang masih tradisional membuat kualitas garam kurang maksimal—sering terkontaminasi tanah sehingga warnanya tidak putih bersih, dan hasil panennya sangat bergantung pada cuaca.

Melihat potensi besar yang belum tergarap maksimal ini, tim dosen dari Universitas Muhadi Setiabudi (Umus) turun tangan melalui program pengabdian masyarakat bertajuk “PKM Pemanfaatan Tunnel dan Geomembrane Sebagai Pemicu Peningkatan Kualitas dan Produksi Garam di Desa Grinting Kabupaten Brebes.” Tim ini diketuai oleh Roni, S.E., M.M., Ak., bersama dua anggota, Muhamad Hasdar, M.Sc. dan Elinda Umisara, M.Pd.

Apa Masalah yang Dihadapi Petambak Garam Grinting?

Sebelum ada program ini, sebagian besar petambak garam di Desa Grinting belum mengenal teknologi geomembrane dan tunnel yang sebenarnya bisa membuat proses produksi garam jauh lebih efisien. Selain itu, ada tantangan besar lain: pada tahun 2024 terjadi fenomena “kemarau basah”, yaitu musim kemarau yang tetap diselingi hujan. Kondisi cuaca yang tidak menentu ini membuat produksi garam dengan cara tradisional menjadi semakin sulit diandalkan, karena air hujan bisa merusak proses kristalisasi garam yang sedang berlangsung.

Di sinilah tim dosen Umus hadir, tidak hanya membawa teknologi baru, tetapi juga mendampingi petambak secara intensif—memberikan pengetahuan teknis, mendengarkan keluh kesah mereka, dan membangun rasa percaya diri agar petambak berani beralih ke cara produksi yang lebih modern.

Apa Itu Teknologi Geomembrane dan Tunnel?

Bagi masyarakat awam, dua istilah ini mungkin terdengar asing. Sederhananya, begini cara kerjanya:

Geomembrane adalah lembaran plastik khusus yang dipasang di dasar tambak garam yang sudah diratakan, dengan ukuran disesuaikan luas tambak. Fungsinya adalah mencegah air laut meresap ke dalam tanah, sehingga air tetap berada di permukaan untuk proses penguapan dan kristalisasi garam. Bayangkan seperti alas anti bocor yang membuat air asin “terjebak” di permukaan agar bisa menguap dan berubah menjadi kristal garam.

Manfaat menggunakan geomembrane antara lain:

  • Garam jadi lebih putih dan bersih, karena tidak lagi bercampur dengan tanah.
  • Proses penguapan air laut jadi lebih cepat, karena geomembrane menyerap panas matahari lebih efektif sehingga kristalisasi garam lebih cepat terbentuk.
  • Lebih hemat air, karena air laut yang digunakan bisa bertahan lebih lama di tambak, sehingga petambak tidak perlu terlalu sering mengisi ulang air.

Sementara itu, teknologi tunnel adalah semacam “terowongan” di atas tambak garam, dengan dasar dilapisi geomembrane dan bagian atapnya dilapisi plastik tahan sinar UV. Struktur ini berfungsi seperti rumah kaca yang melindungi tambak dari hujan sekaligus membantu mengatur suhu dan kelembapan di dalamnya.

Manfaat teknologi tunnel ini di antaranya:

  • Produksi garam bisa meningkat 10–12 kali lipat dibandingkan cara tradisional.
  • Kualitas garam lebih baik, karena tidak terkena kotoran atau tanah sama sekali.
  • Proses lebih cepat, karena penguapan dan kristalisasi garam berlangsung lebih efisien di dalam tunnel.
  • Bisa produksi sepanjang tahun, tidak perlu lagi khawatir dengan musim hujan atau kemarau basah, karena tambak sudah terlindungi dari air hujan.

Bagaimana Kegiatan Ini Dijalankan?

Program pengabdian ini dilakukan melalui beberapa tahap penting:

1. Sosialisasi dan Pelatihan Tim dosen Umus mengadakan pelatihan langsung kepada para petambak garam tentang cara kerja dan manfaat teknologi tunnel dan geomembrane. Menariknya, kegiatan ini juga dihadiri oleh Kepala Dinas Perikanan, Dinas Perindustrian, dan Lurah Grinting, menunjukkan dukungan penuh dari pemerintah daerah terhadap program ini. Selain teori, para petambak juga langsung mempraktikkan pengetahuan yang mereka dapatkan di lapangan.

2. Penyerahan Alat Teknologi Setelah pelatihan, tim pengabdi menyerahkan alat berupa geomembrane dan tunnel kepada para petambak untuk langsung diaplikasikan di tambak mereka. Tujuannya jelas: membantu petambak memaksimalkan penggunaan lahan tambak, terutama di musim kemarau, sekaligus melindungi hasil panen dari cuaca ekstrem seperti hujan tinggi dan rob (air laut pasang yang naik ke daratan).

3. Pemasangan dan Monitoring Geomembrane dipasang di dasar tambak yang sudah diratakan, lalu tunnel dibangun di atasnya. Tim dosen kemudian melakukan pemantauan rutin terhadap proses pembentukan garam dan panen, khususnya selama bulan Agustus, September, Oktober, dan November 2024.

4. Pendampingan Berkelanjutan Tim dosen Umus juga aktif mensosialisasikan potensi garam Desa Grinting kepada Dinas Perikanan Kabupaten Brebes, membuka peluang dukungan lebih besar dari pemerintah daerah di masa mendatang.

Hasil Nyata yang Dirasakan Petambak

Hasil dari program ini cukup mengesankan. Data produksi garam di Desa Grinting menunjukkan peningkatan yang signifikan:

Tahun Produksi Garam
2023 220 ton
2024 450 ton

Artinya, dalam satu tahun saja, produksi garam di Desa Grinting meningkat lebih dari dua kali lipat. Selain dari sisi jumlah, kualitas garam yang dihasilkan juga jauh lebih baik—warnanya lebih putih dan bersih karena tidak lagi bercampur tanah.

Selain angka produksi, ada juga sejumlah dampak positif lain dari program ini:

  • Munculnya kelompok petambak garam baru yang terbentuk berkat motivasi dari program ini.
  • Petambak jadi lebih paham potensi mengelola tambak garam saat musim kemarau, yang sebelumnya kurang dimanfaatkan.
  • Muncul inisiatif mandiri dari petambak untuk mulai mengelola tambak garam sendiri menggunakan teknologi baru ini.
  • Publikasi di media massa (Radar Tegal) yang membantu memperkenalkan potensi garam Desa Grinting ke masyarakat luas.
  • Artikel ilmiah hasil kegiatan ini berhasil diterbitkan di jurnal terindeks Sinta 4, sebagai bentuk dokumentasi resmi keberhasilan program.

Dari sisi kepuasan mitra, hasil evaluasi juga menunjukkan respons yang sangat positif. Para petambak menyatakan puas dengan cara tim dosen berkomunikasi, memberikan pendampingan, hingga menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi di lapangan—bahkan 100% responden setuju bahwa kerja sama semacam ini perlu dilanjutkan di masa mendatang.

Harapan ke Depan

Dengan hasil yang sudah terbukti nyata, harapannya pemerintah daerah dapat memberikan perhatian lebih besar terhadap potensi garam yang masih belum tergarap maksimal di Desa Grinting. Teknologi tunnel dan geomembrane ini juga membuka peluang bisnis baru bagi para petambak—mulai dari kesempatan memasok garam berkualitas tinggi untuk kebutuhan industri, hingga peluang menembus pasar ekspor yang membutuhkan standar garam tertentu.

Yang tak kalah penting, program ini juga membuktikan bahwa kolaborasi antara kampus, pemerintah daerah, dan masyarakat bisa menghasilkan perubahan nyata bagi kesejahteraan ekonomi warga desa, khususnya para petambak garam yang selama ini berjuang dengan cara-cara tradisional.

Kegiatan pengabdian masyarakat ini mendapat dukungan penuh pendanaan dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM), Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, tahun anggaran 2024.


Sumber: Laporan Akhir Pengabdian Kepada Masyarakat, Universitas Muhadi Setiabudi, 2024; Jurnal IJECS (Indonesian Journal of Empowerment and Community Services), Vol. 5, No. 2 (2024).

← Kembali ke Cakrawala