Pernahkah Anda merasa tidak percaya diri saat mengucapkan kata dalam bahasa Inggris, karena khawatir salah lafal? Masalah ini ternyata dialami oleh banyak mahasiswa yang belajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing atau yang biasa disebut EFL (English as a Foreign Language). Kabar baiknya, kecerdasan buatan (AI) kini hadir sebagai “guru pendamping” yang siap membantu memperbaiki pengucapan bahasa Inggris kapan saja dan di mana saja.
Hal inilah yang menjadi fokus penelitian tim dosen Universitas Muhadi Setiabudi (UMUS) Brebes, yang diketuai oleh Fitriana Kartika Sari, S.Pd., M.Pd. bersama Prasetyo Yuli Kurniawan, M.Pd., serta dibantu oleh dua mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Uswatun Khasanah dan Ilham Bachrul Ulum.
Mengapa Pronunciation Jadi Momok Menakutkan?
Salah satu kesulitan terbesar dalam belajar bahasa Inggris di Indonesia adalah pengucapan atau pronunciation. Hal ini wajar terjadi karena banyak bunyi dalam bahasa Inggris yang tidak ditemukan dalam bahasa Indonesia. Sebagai contoh, bunyi “th” pada kata “this” atau “thin” sering kali diucapkan menjadi bunyi yang lebih familier bagi lidah orang Indonesia, sehingga terdengar berbeda dari pengucapan aslinya.
Metode pembelajaran pronunciation secara konvensional, seperti drilling atau pengulangan bersama dosen di kelas, sering kali tidak memberikan umpan balik yang instan dan personal bagi setiap mahasiswa. Padahal, setiap orang memiliki kesalahan pengucapan yang berbeda-beda dan membutuhkan koreksi yang spesifik. Di sinilah teknologi AI speech recognition atau pengenalan suara berbasis kecerdasan buatan menawarkan solusi baru yang menjanjikan.
Google Read Along, Aplikasi yang Diuji dalam Penelitian Ini
Dalam penelitian ini, tim peneliti menggunakan aplikasi Google Read Along, yakni aplikasi berbasis AI yang dapat mendengarkan ucapan pengguna, membandingkannya dengan pengucapan penutur asli (native speaker), lalu memberikan umpan balik secara langsung dan real-time. Penelitian dilakukan di empat perguruan tinggi dengan melibatkan total 120 mahasiswa sebagai responden, baik dari latar belakang pendidikan bahasa Inggris maupun bukan, asalkan telah menempuh mata kuliah bahasa Inggris.
Untuk mendapatkan gambaran yang mendalam, peneliti tidak hanya menyebarkan angket, tetapi juga melakukan wawancara langsung kepada beberapa mahasiswa guna menggali pengalaman mereka secara lebih rinci.
Apa Kata Mahasiswa?
Hasil penelitian menunjukkan bahwa AI Speech Recognition pada aplikasi Google Read Along memiliki tingkat akurasi yang cukup baik, dengan 65,3% mahasiswa setuju bahwa aplikasi ini akurat dalam mengenali dan menilai pronunciation mereka. Bahkan, 77,2% mahasiswa merasa aplikasi ini lebih akurat dalam memperbaiki kesalahan pengucapan dibandingkan penilaian dari dosen.
Salah satu mahasiswa yang diwawancarai mengungkapkan pengalamannya:
“Sudah bagus, menurut saya lebih akurat dari pada penilaian yang dilakukan dosen. Karena mungkin dosen kita juga bukan native, artinya pengucapan beliau sebatas pengetahuan beliau. Tapi jika menggunakan aplikasi ini, pengucapan kita disesuaikan dengan pengucapan native speaker.”
Selain soal akurasi, penggunaan aplikasi ini juga berdampak positif pada rasa percaya diri mahasiswa. Sebanyak 66,3% mahasiswa merasa lebih percaya diri dalam pronunciation setelah menggunakan aplikasi ini, dan 63,4% merasa motivasi belajar mereka meningkat. Salah satu mahasiswa bercerita bahwa dirinya kini tidak lagi malu mengucapkan kata dalam bahasa Inggris karena sudah tahu cara pengucapan yang benar.
Bukan Tanpa Tantangan
Meski hasilnya menjanjikan, penelitian ini juga menemukan beberapa faktor yang memengaruhi efektivitas penggunaan aplikasi ini. Kualitas mikrofon perangkat dan stabilitas koneksi internet ternyata cukup berpengaruh terhadap akurasi pengenalan suara oleh AI. Selain itu, kemampuan aplikasi dalam mengenali berbagai aksen pengguna juga menjadi faktor penting, mengingat setiap daerah memiliki logat yang berbeda saat berbicara bahasa Inggris.
Menariknya, penelitian ini juga mengungkap bahwa AI cukup efektif membantu memperbaiki kesalahan-kesalahan umum, seperti perbedaan pengucapan vokal panjang dan pendek (misalnya kata “ship” dan “sheep”), penempatan tekanan kata (word stress), hingga pengucapan yang menyambung antar kata dalam kalimat (connected speech), seperti “want to” yang lazim diucapkan menjadi “wanna”.
Namun, untuk kesalahan yang lebih kompleks—misalnya pengucapan yang dipengaruhi aksen daerah atau bunyi tertentu seperti huruf “r” di tengah kata seperti “world”—AI saja belum cukup. Dibutuhkan bimbingan tambahan dari dosen untuk membantu mahasiswa menyempurnakan pengucapannya.
Teknologi dan Manusia, Sama-Sama Dibutuhkan
Salah satu temuan penting dari penelitian ini adalah bahwa meskipun AI Speech Recognition terbukti membantu dan bahkan dinilai lebih konsisten dibanding penilaian manusia dalam beberapa aspek, teknologi ini belum sepenuhnya bisa menggantikan peran dosen. Nuansa dan kompleksitas intonasi bahasa, misalnya, masih memerlukan sentuhan dan penjelasan dari pengajar agar mahasiswa benar-benar memahami konteks penggunaannya.
Dengan kata lain, kombinasi antara teknologi AI dan bimbingan dosen menjadi kunci keberhasilan pembelajaran pronunciation bahasa Inggris yang lebih efektif, interaktif, dan menyenangkan.

Langkah Selanjutnya
Saat ini, tim peneliti tengah menyusun hasil penelitian ini menjadi artikel ilmiah untuk dipublikasikan pada jurnal nasional terakreditasi SINTA 2, yaitu English Review: Journal of English Education. Ke depan, hasil penelitian ini juga direncanakan menjadi dasar bagi penelitian lanjutan mengenai pengembangan media pembelajaran bahasa Inggris yang lebih disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa EFL.
Penelitian sederhana namun berdampak ini menunjukkan bahwa kemajuan teknologi kecerdasan buatan, jika dimanfaatkan dengan tepat, dapat menjadi teman belajar yang membantu mahasiswa lebih percaya diri berbicara bahasa Inggris—tanpa harus menggantikan peran penting seorang guru.
Artikel ini disusun berdasarkan Laporan Kemajuan Penelitian Dosen Pemula berjudul “Penggunaan AI Speech Recognition pada Aplikasi Google Read Along untuk Memfasilitasi Pronunciation Bahasa Inggris dalam Konteks English as Foreign Language” oleh Fitriana Kartika Sari, M.Pd., dkk., yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi melalui skema Penelitian Dosen Pemula Tahun Anggaran 2024.