Cakrawala Farmasi

Dari Limbah Dapur Jadi Minuman Sehat: Kulit Bawang Merah Brebes Diolah Jadi Powder Drink Antioksidan

Farmasi
Skema:PDP
Tahun:2024

Siapa sangka, kulit bawang merah yang selama ini hanya berakhir di tempat sampah ternyata menyimpan potensi kesehatan yang luar biasa? Tim peneliti dari Universitas Muhadi Setiabudi (UMUS) Brebes berhasil membuktikan bahwa kulit bawang merah khas Brebes bisa diolah menjadi minuman serbuk (powder drink) yang kaya antioksidan.

Bawang Merah, Kebanggaan Brebes yang Belum Dimanfaatkan Maksimal

Kabupaten Brebes dikenal luas sebagai penghasil bawang merah terbesar di Indonesia. Hampir setiap hari, masyarakat mengolah bawang merah menjadi berbagai produk pangan, mulai dari bawang goreng, pasta bawang, hingga minyak bawang. Namun, dari proses produksi tersebut selalu tersisa satu bagian yang jarang dilirik: kulit bawangnya.

Selama ini kulit bawang merah kebanyakan hanya dijadikan pupuk organik atau bahkan dibuang begitu saja. Padahal, penelitian terdahulu menunjukkan bahwa kulit bawang merah justru memiliki aktivitas antioksidan yang lebih tinggi dibandingkan umbinya. Fakta inilah yang mendorong tim peneliti UMUS—diketuai oleh Alik Kandhita Febriani, S.T., M.Si., bersama Yunika Purwanti, S.TP., M.P., apt. Rifqi Ferry Balfas, M.Farm, dan mahasiswa Ifani Maesarah—untuk mengubah “limbah” ini menjadi produk yang bermanfaat.

Mengapa Antioksidan Itu Penting?

Dalam tubuh kita, radikal bebas terus-menerus terbentuk akibat polusi, stres, hingga makanan yang kita konsumsi sehari-hari. Jika dibiarkan menumpuk, radikal bebas dapat memicu berbagai penyakit degeneratif seperti kanker, penyakit jantung, dan penuaan dini. Di sinilah antioksidan berperan sebagai “pelindung” yang menetralkan radikal bebas tersebut.

Belakangan ini, masyarakat semakin gemar mengonsumsi produk nutrasetikal, yaitu produk pangan atau minuman yang sekaligus memberikan manfaat kesehatan layaknya suplemen alami. Nah, powder drink kulit bawang merah ini dikembangkan sebagai salah satu jawaban atas tren tersebut, sekaligus menjadi upaya melestarikan kearifan lokal Brebes.

Bagaimana Cara Membuatnya?

Prosesnya dimulai dari kulit bawang merah yang dicuci bersih, dikeringkan, lalu diekstraksi menggunakan teknik blanching (perendaman singkat dengan air panas) pada suhu 70°C. Sari kulit bawang merah yang dihasilkan kemudian diuji kandungan senyawa kimianya, dan hasilnya positif mengandung flavonoid, saponin, terpenoid, serta polifenol — senyawa-senyawa yang dikenal luas sebagai sumber antioksidan alami.

Selanjutnya, sari kulit bawang merah dicampur dengan bahan tambahan seperti maltodekstrin, tween 80, dan carboxymethyl cellulose, lalu dikeringkan menggunakan metode foam mat drying (pengeringan busa) hingga membentuk serbuk halus. Tim peneliti membuat tiga variasi formula dengan konsentrasi ekstrak kulit bawang merah yang berbeda-beda, yaitu 20%, 40%, dan 60%.

Hasil yang Menjanjikan

Dari hasil pengujian, ketiga formula powder drink menunjukkan warna merah bata yang semakin pekat seiring bertambahnya konsentrasi kulit bawang merah, dengan aroma khas bawang yang samar. Serbuk ini juga memenuhi sejumlah standar mutu sediaan bubuk, seperti tingkat keasaman (pH) yang netral, kadar abu yang wajar, serta waktu larut yang cukup cepat.

Yang paling menarik, hasil uji aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa formula III (dengan konsentrasi ekstrak 60%) memiliki aktivitas antioksidan yang jauh lebih baik dibandingkan dua formula lainnya. Ini membuktikan bahwa semakin tinggi kandungan ekstrak kulit bawang merah dalam sediaan, semakin besar pula potensi manfaat antioksidannya bagi tubuh.

Meski begitu, peneliti mencatat masih ada beberapa aspek fisik sediaan yang perlu disempurnakan pada penelitian lanjutan, seperti tingkat kelembapan dan sifat alir serbuknya, agar produk semakin stabil dan nyaman dikonsumsi.

Peluang Besar untuk Masa Depan

Penelitian ini bukan sekadar berhenti di laboratorium. Tim peneliti telah memetakan peta jalan pengembangan hingga lima tahun ke depan, mulai dari optimasi formula, uji aktivitas antioksidan pada hewan uji, uji stabilitas dan klinis pada manusia, hingga potensi produksi dalam skala komersial.

Dari sisi manfaat ekonomi dan lingkungan, inovasi ini juga membuka peluang baru bagi petani dan pelaku usaha bawang goreng di Brebes untuk memanfaatkan limbah kulit bawang merah menjadi produk bernilai tambah, sekaligus mengurangi sampah pertanian yang selama ini terbuang percuma.

Hasil penelitian ini telah dipublikasikan pada jurnal nasional terakreditasi SINTA 5 (Parapemikir: Jurnal Ilmiah Farmasi) serta SINTA 3 (Jurnal Teknologi Pangan, Universitas Yudharta), dan turut didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dalam bentuk poster ilmiah.

Kisah kulit bawang merah Brebes ini membuktikan bahwa dengan sentuhan riset dan inovasi, sesuatu yang dianggap sepele—bahkan limbah dapur sekalipun—bisa berubah menjadi produk kesehatan yang bermanfaat bagi masyarakat luas.


Artikel ini disusun berdasarkan Laporan Akhir Penelitian Dosen Pemula berjudul “Formulasi Sediaan Nutrasetikal Powder Drink Kulit Bawang Merah Brebes (Allium cepa L. var. aggregatum) sebagai Antioksidan” oleh Alik Kandhita Febriani, S.T., M.Si., Yunika Purwanti, S.TP., M.P., apt. Rifqi Ferry Balfas, M.Farm, dan Ifani Maesarah (anggota mahasiswa) yang didanai oleh Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Tahun Anggaran 2024.

← Kembali ke Cakrawala