KKN News

Dongeng dari Potensi Lokal Jadi Inovasi Pembelajaran, UMUS Gandeng Desa Dukuh Tengah Perkuat Literasi Anak

LPPM News, Margasari, 25 Juli 2026 – Universitas Muhadi Setiabudi (UMUS) melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tahun 2026 kembali menunjukkan komitmennya dalam pengabdian kepada masyarakat dengan menggandeng Pemerintah Desa Dukuh Tengah, Kecamatan Margasari, Kabupaten Tegal, untuk mengembangkan inovasi pembelajaran berbasis budaya lokal. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Workshop dan Peluncuran Inovasi Pembelajaran Berbasis Dongeng Anak Potensi Lokal Desa Dukuh Tengah yang diselenggarakan di Balai Desa Dukuh Tengah, Sabtu (25/7/2026).

Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Desa Dukuh Tengah beserta perangkat desa, Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD), kepala sekolah dan guru sekolah dasar, tokoh masyarakat, mahasiswa KKN Universitas Muhadi Setiabudi, serta masyarakat Desa Dukuh Tengah.

Workshop menjadi momentum peluncuran berbagai inovasi pembelajaran yang memanfaatkan potensi lokal sebagai sumber belajar. Melalui pendekatan tersebut, cerita rakyat, sejarah desa, tokoh lokal, tradisi, hingga lingkungan sekitar dikembangkan menjadi buku dongeng anak dan media pembelajaran yang kontekstual guna memperkuat budaya literasi sekaligus melestarikan kearifan lokal.

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN Universitas Muhadi Setiabudi, Robert Rizki Yono, M.Pd., dalam sambutannya menyampaikan bahwa pengembangan dongeng berbasis potensi lokal merupakan salah satu bentuk nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.

Menurutnya, Kecamatan Margasari memiliki kekayaan sejarah, budaya, tradisi, lingkungan alam, dan tokoh-tokoh inspiratif yang sangat potensial dijadikan bahan bacaan anak.

“Dongeng berbasis potensi lokal bukan sekadar cerita untuk menghibur anak-anak, tetapi juga menjadi media untuk memperkuat literasi, membentuk karakter, dan menumbuhkan kecintaan terhadap budaya daerah. Anak-anak akan lebih mudah memahami cerita ketika tokoh, tempat, dan nilai yang disampaikan dekat dengan kehidupan mereka,” ujar Robert.

Ia menambahkan bahwa penyediaan bahan bacaan yang kontekstual menjadi salah satu strategi penting dalam membangun budaya membaca di tengah masyarakat. Melalui buku dongeng berbasis potensi lokal, anak-anak tidak hanya belajar membaca, tetapi juga mengenal sejarah, budaya, nilai-nilai kehidupan, serta identitas daerahnya sendiri.

Kepala Desa Dukuh Tengah, Ibu Toisah, menyampaikan apresiasi kepada Universitas Muhadi Setiabudi, khususnya Dosen Pembimbing Lapangan dan mahasiswa KKN, atas pelaksanaan program yang dinilai memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Ia menyampaikan bahwa program pengembangan dongeng berbasis potensi lokal membantu masyarakat mendokumentasikan sejarah dan kekayaan budaya Desa Dukuh Tengah dalam bentuk yang lebih menarik dan mudah dipahami oleh anak-anak.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Universitas Muhadi Setiabudi atas program yang telah dilaksanakan. Kegiatan ini sangat membantu desa dalam memperkenalkan potensi lokal kepada generasi muda. Kami berharap buku dongeng yang dihasilkan dapat menjadi koleksi desa sekaligus dimanfaatkan oleh sekolah dan masyarakat,” ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut, Kepala Desa juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama pelaksanaan KKN masih terdapat berbagai keterbatasan fasilitas yang diterima mahasiswa serta berharap agar hasil fisik berupa buku dongeng dapat menjadi koleksi Pemerintah Desa Dukuh Tengah.

Selain penyampaian materi utama oleh Robert Rizki Yono mengenai Dongeng Berbasis Potensi Lokal Kecamatan Margasari untuk Penguatan Literasi, workshop juga menjadi ajang peluncuran lima produk inovasi yang dikembangkan mahasiswa KKN Universitas Muhadi Setiabudi.

Produk pertama berupa pengembangan buku dongeng anak berbasis potensi lokal Desa Dukuh Tengah. Produk kedua berupa pemanfaatan buku dongeng sebagai media pembelajaran di sekolah dasar sehingga guru dapat mengintegrasikan cerita lokal ke dalam proses pembelajaran. Produk ketiga berupa media pembelajaran dongeng bergambar yang dirancang untuk meningkatkan minat baca peserta didik melalui ilustrasi yang menarik. Produk keempat, mahasiswa juga mengembangkan video animasi berbasis buku dongeng Desa Dukuh Tengah sebagai alternatif media pembelajaran digital yang lebih interaktif. Kelima berupa program sosialisasi dan pendampingan literasi melalui Festival Mendongeng Anak, sebagai upaya membangun budaya membaca sekaligus melatih kemampuan bercerita anak-anak. Kelima inovasi tersebut saling terintegrasi sehingga membentuk ekosistem literasi yang dimulai dari penyediaan bahan bacaan, pemanfaatan dalam pembelajaran, pengembangan media digital, hingga implementasi melalui kegiatan literasi di masyarakat. 

Workshop berlangsung dinamis dan mendapat antusiasme tinggi dari peserta. Pada sesi diskusi, berbagai pertanyaan diajukan mengenai implementasi buku dongeng berbasis potensi lokal di sekolah dasar. Salah satu pertanyaan disampaikan oleh Dendriyo Raharjo, selaku Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Dukuh Tengah sekaligus perwakilan dari SD Negeri Dukuh Tengah 03, yang menyoroti strategi pemanfaatan buku dongeng sebagai media pembelajaran yang berkelanjutan di sekolah.  Diskusi tersebut menghasilkan berbagai masukan mengenai pentingnya kolaborasi antara sekolah, pemerintah desa, perguruan tinggi, dan masyarakat agar pengembangan literasi berbasis budaya lokal dapat terus berlanjut setelah program KKN berakhir.

Melalui kegiatan ini, Universitas Muhadi Setiabudi menegaskan bahwa penguatan literasi tidak hanya dilakukan melalui penyediaan bahan bacaan, tetapi juga melalui pengembangan media pembelajaran yang relevan dengan kehidupan peserta didik.

Pemanfaatan potensi lokal sebagai sumber cerita diharapkan mampu meningkatkan minat baca anak, memperkuat pendidikan karakter, sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya daerah.

Workshop dan peluncuran inovasi ini menjadi bukti bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, sekolah, dan masyarakat dapat melahirkan inovasi pembelajaran yang berdampak nyata. Ke depan, buku dongeng, media bergambar, video animasi, dan Festival Mendongeng diharapkan menjadi bagian dari gerakan literasi berkelanjutan di Desa Dukuh Tengah, sehingga anak-anak tidak hanya gemar membaca, tetapi juga tumbuh sebagai generasi yang mengenal, mencintai, dan melestarikan budaya lokal.

 

← Kembali ke Berita