LPPM News, Jepang — Kuliner tradisional tidak hanya sekadar pemuas dahaga dan lapar, tetapi juga dapat menjadi instrumen diplomasi budaya yang ampuh di kancah internasional. Hal itulah yang dibuktikan oleh Nurul Faoziyah, mahasiswa Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan, Universitas Muhadi Setiabudi (UMUS) Brebes, melalui program KKN Mandiri Internasional yang dilaksanakannya di Jepang.
Melalui program kerja bertajuk Gastrodiplomacy Kuliner Nusantara, Nurul memperkenalkan jajanan khas Indonesia—yakni Klepon dan Es Dawet—kepada jajaran manajemen dan staf lokal di perusahaan Isshinen Co., Ltd., tempat ia melakoni program pengabdian.
Adaptasi Bahan Lokal Tanpa Menghilangkan Cita Rasa Nusantara
Sebagai mahasiswa Teknologi Pangan, Nurul tidak hanya sekadar menyajikan makanan, tetapi juga melakukan riset formulasi resep. Salah satu tantangan utama dalam pelaksanaan KKN di luar negeri adalah keterbatasan bahan baku otentik.
Untuk menyiasatinya, Nurul melakukan inovasi dengan memadukan bahan baku lokal Jepang, seperti penggunaan tepung Joshinko dan Shiratamako untuk adonan Klepon. Selain itu, ia juga melakukan re-formulasi tingkat kemanisan (palatable test) dengan menurunkan kadar gula sebesar 20% hingga 30% pada racikan Es Dawet dan Klepon agar lebih sesuai dengan preferensi rasa masyarakat Jepang yang cenderung menyukai rasa manis yang lembut (subtle).
Hasil Uji Kesukaan (Hedonic Test) Menunjukkan Respon Positif
Pengenalan kuliner ini juga diukur secara ilmiah melalui uji organoleptik (Hedonic Test) skala 5 poin terhadap 11 responden lokal Jepang. Pengisian kuesioner dilakukan secara digital melalui pemindaian QR Code dwibahasa (Indonesia-Jepang).
Hasil uji kesukaan menunjukkan penerimaan yang sangat tinggi:
- Klepon: Memperoleh nilai rata-rata penerimaan keseluruhan (overall acceptance) sebesar 4,73 dari skala 5 (kategori Sangat Suka). Responden lokal memberikan respons yang sangat hangat. Salah satu staf Jepang menyatakan kekagumannya pada cita rasa dan teksturnya, “Oishii! Teksturnya sangat mirip dengan Dango khas Jepang, dan sensasi gula merah cair di dalamnya bikin kaget tapi rasanya enak sekali.
- Es Dawet: Memperoleh nilai rata-rata 4,64 (kategori Sangat Suka). Kombinasi kesegaran rasa manis gula merah dan gurihnya santan mendapat apresiasi positif sebagai minuman penutup yang menyegarkan.

Edukasi Budaya Berbasis Bahasa Jepang Formal
Sebelum proses pencicipan (food tasting), kegiatan diawali dengan sesi edukasi mengenai sejarah, bahan penyusun, serta nilai filosofis di balik hidangan tradisional Indonesia yang disampaikan menggunakan bahasa Jepang formal (Keigo).
“Pendekatan edukatif yang dipadukan dengan pengalaman mencicipi secara langsung terbukti efektif memangkas jarak perbedaan budaya pangan. Makanan menjadi jembatan komunikasi yang sangat hangat antara mahasiswa Indonesia dan masyarakat lokal Jepang,” ujar Nurul.
Melalui rangkaian kegiatan KKN Mandiri Internasional UMUS ini, diharapkan program pengabdian masyarakat dapat terus menginspirasi mahasiswa lainnya untuk membawa kearifan lokal dan potensi pangan Nusantara ke panggung dunia.
